TAKJIL RAMADAN

Pentigraf
TAKJIL RAMADAN
Oleh: Telly D.
Ramadan datang seperti angin yang membawa wangi kolak dari gang sempit itu. Sejak azan pertama, lampu-lampu kecil tergantung di teras rumah Bu Rahma, menyala sederhana namun hangat. Ia selalu menyiapkan takjil lebih banyak dari yang dibutuhkan, meski kini anak-anaknya jarang pulang. “Barangkali ada yang singgah” katanya, seolah rezeki tak pernah salah alamat.
Tahun ini berbeda. Putra sulungnya, Farid pulang setelah bertahun-tahun merantau, pulang dengan kegagalan usaha yang membuatnya nyaris bangkrut. Ia duduk diam di ruang tamu setiap sore, merasa seperti tamu di rumah sendiri. Tekanan paling berat bukan pada uang yang hilang, melainkan pada harga diri yang runtuh. Ia ingin kembali ke kota, lari dari tatapan iba yang ia kira ada di mata ibunya.
Menjelang magrib di hari pertama, listrik padam. Rumah gelap, hanya diterangi lilin kecil. Bu Rahma menyodorkan segelas air dan sepotong kurma pada Farid. “Rezeki itu bukan hanya yang datang, tapi juga yang kembali,” ucapnya pelan. Saat azan berkumandang dari masjid, Farid menahan tangis. Ia sadar, Ramadan tak mengembalikan hartanya, tetapi mengembalikan dirinya ke tempat yang tak pernah menagih apa-apa selain pulang.
Makassar, Ramadan 2026

Leave a Reply