SATU LUBANG DI PAGI HARI

Pentigraf
SATU LUBANG DI PAGI HARI
Oleh: Telly D.
Malam merayap perlahan di kamar hotel yang berbau tembakau. Pak Danu rebah kelelahan, tubuhnya dipenuhi angka-angka laporan dan tenggat yang berkejaran di kepala. Rokok menyala di jemarinya, menjadi lentera kecil yang mengantar kantuk. Ia tertidur sebelum doa selesai. Bara rokok jatuh diam-diam, menggigit seprai, meninggalkan tiga lubang hitam seperti mata kecil yang mengintip rasa bersalahnya.

Pagi datang bersama kepanikan. Pak Danu berdiri tersentak, mengambil telepon kamar menghubungi resepsionis, suaranya pecah seperti kaca tipis. Menyampaikan kelalaiannya, seprai berlubang. Resepsionis menjawab datar, “Seratus ribu per lubang.” Kata-kata itu jatuh seperti palu. Pak Danu menelan ludah, menimbang dompet dan harga malu, lalu meminta waktu dan menutup telepon.
Di kamar, ia menatap tiga lubang itu lama, seperti membaca rasi bintang nasibnya sendiri. Tiba-tiba, senyum kecil lahir. Dengan sisa rokok yang masih ada perlahan, dia menyelesaikan idenya. Saat cek out, resepsionis terdiam, matanya membulat menemukan satu lubang besar di seprei. Pak Danu berkata lirih, “Satu lubang, seratus ribu.” Dan pagi pun tertawa, diam-diam.
Makassar, Februari 2026

February 6, 2026 at 1:31 pm
Ellie3115
Boost your income effortlessly—join our affiliate network now!