Saling Bangga di Antara Waktu dan Takdir

Saling Bangga di Antara Waktu dan Takdir
Oleh: Telly D. *)
Hari itu, saya berangkat ke sebuah pertemuan dengan perasaan yang sederhana: memenuhi undangan. Sebuah forum yang digagas Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar. (Dr. Aryati Puspasari Abady, S.Pi., M.Si.). Namun, saya tak pernah menyangka bahwa perjalanan itu bukan sekadar perjalanan fisik dari rumah menuju ruang rapat, melainkan perjalanan batin dari masa lalu menuju hari ini. Sebab, orang yang mengundang saya adalah seorang murid, anak yang dulu duduk di bangku SMP, memegang pensil dan mendengarkan pelajaran matematika dengan mata penuh tanya. Kini, ia memegang jabatan, memikul tanggung jawab, dan tetap memanggil saya: guru.
Undangan itu diserahkan langsung olehnya, dari tangan ke tangan, seperti estafet kenangan. Seperti obor kecil yang berpindah generasi, menyala dari ruang kelas sempit menuju ruang pertemuan yang luas. Dalam sorot matanya, saya membaca harapan: “Datanglah, Bu Guru.” Maka saya datang. Bukan karena undangan semata, tetapi karena ikatan yang tak pernah benar-benar putus oleh waktu.
Di ruang pertemuan itu, tiba-tiba nama saya disebut. Ia memperkenalkan saya dengan suara mantap, seolah sedang memperkenalkan sebuah harta karun yang lama ia simpan. “Ini guru matematika saya,” katanya, “yang sampai hari ini masih menulis, masih produktif, masih mengajar dengan hati.” Kalimat itu seperti hujan di musim kemarau menyentuh, menyegarkan, dan membuat dada saya penuh. Saya berdiri menetima penghargaan itu dengan menghormatinya.
Saya merasa seperti sebuah buku tua yang ternyata masih dibaca, masih dianggap bermakna. Di hadapan banyak orang, ia mengangkat saya bukan sebagai masa lalu yang usang, tetapi sebagai cahaya yang masih menyala. Ia bercerita tentang kebanggaannya. Ia ulangi lagi, dan lagi. Seakan takut dunia lupa bahwa di balik jas dan jabatan, ia pernah menjadi anak kecil yang belajar menghitung di papan tulis.

Foto Bersama Setelah Acara Selesai. Foto: Dokumen Pribadi
Ketika tiba waktu penandatanganan, saya diminta bertanda tangan sebagai wakil penulis, ia kembali menyinggung tulisan-tulisan saya. “Guru saya ini, tulisannya bagus,” katanya ringan, tapi penuh makna. Saya tersenyum. Dalam hatinya, rupanya saya masih guru yang sama: berdiri di depan kelas, membagi angka, membagi harap, membagi keyakinan bahwa belajar adalah jalan hidup.
Waktu makan siang, ia mendekat, memeluk saya, mengajak makan bersama. Tidak ada jarak jabatan di sana. Yang ada hanya anak dan guru, seperti dulu. Meja makan itu berubah menjadi meja kenangan, tempat kami menyusun kembali potongan masa lalu dan masa kini.
Namun, dari semua momen, yang paling menggetarkan hati saya adalah ketika ia masuk ruangan, menghampiri saya, lalu mencium tangan saya. Di tengah dunia yang sering lupa pada akar, ia memilih merunduk. Di tengah budaya pamer prestasi, ia memilih bersujud pada asal-usulnya. Tangan saya yang keriput itu seolah menjadi peta perjalanan hidupnya. Di sanalah ia belajar arah.
Saya sadar, hubungan guru dan murid bukan sekadar relasi akademik. Ia seperti sungai dan mata air. Guru adalah mata air kecil yang mungkin tampak sederhana, tetapi darinya mengalir sungai besar bernama masa depan. Murid adalah sungai itu, mengalir jauh, membawa nama gurunya ke laut keberhasilan.

Foto Bersama Peserta Setelah Acara Selesai. Foto: Dokumen Pribadi
Kami saling membanggakan, bukan dengan kata-kata kosong, tetapi dengan sikap. Ia membanggakan saya dengan kerendahan hatinya. Saya membanggakannya dengan doa dan keikhlasan. Ia menunjukkan bahwa sukses tidak harus menghapus rasa hormat. Saya belajar darinya bahwa mendidik bukan tentang hasil cepat, melainkan tentang jejak panjang.
Hari itu, saya pulang dengan hati penuh. Bukan karena penghargaan, bukan karena pujian, tetapi karena saya melihat sendiri: benih yang saya tanam bertahun-tahun lalu kini tumbuh menjadi pohon rindang. Pohon itu tidak lupa pada tanah tempat ia berakar.
Dan saya, seorang guru yang terus belajar menulis di usia senja, merasa hidup saya seperti sebuah buku yang ternyata masih punya halaman-halaman indah untuk dibaca. Bersamanya, saya belajar bahwa kebanggaan sejati bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tetapi tentang siapa yang tetap saling memandang dengan cinta.
Di antara kami, tidak ada yang lebih besar. Yang ada hanyalah dua jiwa yang saling menguatkan: murid yang sukses dan guru yang tak pernah berhenti berharap.
Claro Makassar, 2 Februari 2026
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL, Penasihat IGMP Matematika, Pemerhati Pendidikan, Pelukis dan Penulis lebih 70 Judul buku. Buku terakhir “Dinding, Cermin dan Pintu” 81 Pentigraf Luka yang Diam dan Cinta yang Bertahan (2026).

February 3, 2026 at 9:50 pm
Ardi dahlan
Masya Allah, luar biasa relasi antara murid dan guru, semangat lanjutkan menulis bu telly