Berani Berbuat, Berani Bertanggung Jawab

Berani Berbuat, Berani Bertanggung Jawab
Oleh: Telly D.*)
Ada hujan yang hanya membasahi bumi, lalu pergi.
Ada pula hujan yang menetap lama di ingatan, tumbuh menjadi pelajaran, dan diam-diam membentuk siapa diri kita kelak.
Bagi saya, hujan masa kecil bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah bagian dari perjalanan batin, tempat saya belajar mengenal keberanian, kejujuran pada pilihan, dan kesediaan menerima akibat. Semua itu saya pelajari bukan dari buku, bukan dari ceramah, melainkan dari pengalaman sederhana bersama ayah dan ibu.
Siang itu, langit berubah perlahan. Awan gelap datang membawa beban air, petir menggoreskan cahaya di kejauhan, guntur bergaung dari balik perbukitan, dan angin menyusup di sela-sela dedaunan. Atap seng rumah kami berdentang seperti genderang hujan, tanah mengerang menerima limpahan, dan udara terasa penuh oleh aroma basah yang khas. Semua makhluk bergegas mencari aman. Ayam naik ke kandang, kucing menggulung diri, burung kembali ke sarang. Musim hujan telah benar-benar hadir. Hujan bisa turun berhari-hari tanpa henti.
Di depan rumah di kampung lapangan bola berubah menjadi hamparan air setinggi lulut anak-anak, mengilap seperti cermin langit. Airnya tenang, luas, dan menggoda. Setiap kali memandangnya, hati kecil saya bergetar. Ada panggilan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di dalam rumah, ibu menciptakan kehangatan dengan caranya sendiri. Buku, rajutan, cerita, dan makanan panas menjadi penyangga hari-hari hujan. Ia menjaga kami dengan penuh cinta, seolah takut dingin akan mencuri kesehatan dan keceriaan anak-anaknya. Namun di balik selimut dan kenyamanan itu, hati saya sering gelisah. Saya ingin keluar. Saya ingin menyentuh hujan. Saya ingin menyatu dengan alam.
Padahal saya tahu, aturan rumah tidak pernah berubah: tidak boleh mandi hujan. Itu aturan level 1. Aturan itu bukan sekadar larangan, melainkan bentuk kasih sayang. Namun sebagai anak kecil, saya lebih sering mendengar panggilan kebebasan daripada bisikan kehati-hatian.
Saya duduk lama di jendela, memandangi air yang jatuh tanpa lelah, sambil bertanya pada diri sendiri: apakah kenikmatan sebentar sebanding dengan hukuman nanti? Ayah melihat kegelisahan itu. Tanpa banyak kata, ia mendekat, mendengarkan niat saya, dan memastikan bahwa saya sadar sepenuhnya pada risiko pilihan. Ketika pintu akhirnya ayah buka, saya tahu: saya sedang belajar bertanggung jawab, meski belum sepenuhnya memahami artinya.
Saya berlari keluar dengan jantung berdebar. Hujan menyambut tubuh saya seperti pelukan yang dingin namun jujur. Angin menyapu rambut dan wajah. Jalanan kosong menjadi ruang bermain. Lapangan yang tergenang berubah menjadi panggung kehidupan.
Saya mulai menari.
Tubuh kecil saya bergerak mengikuti irama hujan. Tangan terbentang, kaki menghentak air, tubuh berputar tanpa malu. Saya berguling-guling merasakan nikmatnya berkubang. Sesekali saya selingi dengan koprol memperlihatkan kelenturan tubuh yang saya miliki. Percikan lumpur beterbangan, suara air beradu dengan napas saya sendiri. Langit menjadi atap raksasa, awan menjadi tirai, guntur menjadi musik, dan petir menjadi cahaya yang menyorot tanpa jadwal. Saya menari, tari hujan, seolah seluruh dunia sedang mendengarkan, padahal hanya ada satu penonton.
Ayah berdiri di balik jendela.
Ia menatap tanpa banyak gerak, dengan mata yang penuh makna dan senyum yang menenangkan. Dari kejauhan, saya menangkap isyarat kecilnya, dia mengangkat kedua tangannya dan melambaikan, seolah ia berkata: nikmatilah, tapi ingatlah konsekuensinya. Tatapan itu membuat saya menari lebih jujur, lebih lepas, lebih hidup. Saya tidak sedang mencari pujian. Saya sedang merayakan masa kecil saya sendiri.
Ketika dingin mulai menusuk tulang dan tubuh kehilangan tenaga, saya pulang. Di depan pintu, ibu sudah menunggu. Wajahnya tenang, suaranya datar tetapi keputusannya tegas. Hukuman tetap harus dijalani. Saya duduk memotong kecambah satu per satu, melatih kesabaran yang selama ini sering saya abaikan. Air mata menetes perlahan, bukan hanya karena lelah, tetapi karena mulai memahami arti tanggung jawab.
Saya menoleh mencari ayah. Ia ada di sana, diam, tidak berpihak, padahal dialah yang menikmati tari hujanku bahkan dia yang membantu saya keluar rumah, membukakan pintu. Saat itu saya merasa sedikit kecewa, tetapi kelak saya mengerti: ia sedang mengajarkan saya untuk berdiri di atas pilihan sendiri.
Setelah semuanya selesai, ayah datang dengan pelukan. Ia membersihkan tubuh saya, menyelimuti, dan menggendong saya ke kamar. Kasih sayangnya kembali utuh, tidak berkurang sedikit pun. Dengan suara rendah, ia mengingatkan bahwa keberanian sejati selalu disertai kesediaan menanggung akibat. Saya tertidur dalam kehangatan itu, membawa pesan itu masuk ke alam mimpi.
Tahun-tahun berlalu. Saya tumbuh. Hujan tetap turun, tetapi kebiasaan mandi hujan perlahan menghilang, yang tinggal adalah pelajarannya. Ayah dan ibu tidak membesarkan saya menjadi anak yang takut mencoba, tetapi juga tidak membiarkan saya lari dari akibat.
Kini, ketika hidup menghadirkan banyak “hujan” dalam bentuk lain; godaan, pilihan, tantangan, dan risiko, saya selalu teringat lapangan kecil itu, tarian hujan itu, dan satu penonton setia di balik jendela.
Dari sanalah saya belajar:
berani memilih,
jujur pada diri sendiri,
dan setia pada tanggung jawab.
Karakter tidak lahir dari nasihat panjang.
Ia tumbuh dari pengalaman yang dijalani dengan sadar.
Dan hujan masa kecil itu adalah guru pertama saya.
Makassar, Januari 2026
⸻
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., pegiat literasi, penulis lebih dari 60 judul buku, pemerhati pendidikan, pelukis, serta penasihat berbagai komunitas pendidikan.
Prinsip “Berani Berbuat, Berani Bertanggung Jawab” merupakan nilai hidup yang diwarisi dari pendidikan keluarga dan menjadi fondasi etik dalam karya serta pengabdian beliau.

February 6, 2026 at 1:31 pm
Summer3247
Start sharing, start earning—become our affiliate today!
February 2, 2026 at 6:12 pm
Rory1613
Join our affiliate community and maximize your profits—sign up now!
February 1, 2026 at 4:57 pm
Billie3693
Become our affiliate—tap into unlimited earning potential!
February 1, 2026 at 4:18 pm
Asia2517
Promote our brand and get paid—enroll in our affiliate program!
February 1, 2026 at 3:10 pm
Judy1488
Promote our brand and get paid—enroll in our affiliate program!
January 31, 2026 at 6:54 pm
Amy3343
Get paid for every referral—enroll in our affiliate program!
January 31, 2026 at 1:26 am
Sam4396
Refer friends, earn cash—sign up now!