Memilih Tenang di Usia Senja

Memilih Tenang di Usia Senja
Oleh: Telly D.
Suatu pagi, di awal tahun 2026, saya berdiri lama di depan cermin. Bukan untuk memastikan riasan, bukan untuk mencari pujian, tetapi untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya masih sanggup menjalani hari ini.
Rambut saya semakin memutih. Mata lebih mudah lelah. Sendi sering mengeluh tanpa aba-aba.
Di luar sana, orang-orang sibuk menyusun resolusi: target, pencapaian, dan popularitas. Saya justru bertanya dalam hati, “Apakah saya masih bisa hidup dengan tenang tahun ini?”
Dari pertanyaan itu, resolusi saya lahir. Bukan dari ambisi, melainkan dari kesadaran bahwa hidup tidak selalu tentang naik. Kadang, ia hanya tentang bertahan dengan bermartabat.
Resolusi pertama saya adalah merawat tubuh dengan penuh kesadaran.
Target saya sederhana: tetap sehat, mandiri, dan berdaya sepanjang tahun.
Saya menjadwalkan pemeriksaan kesehatan setiap tiga bulan. Saya menjaga makan bergizi, mengurangi gula dan lemak, memperbanyak air putih. Saya membiasakan tidur cukup. Saya berjalan kaki dan senam ringan tiga kali seminggu. Saya minum obat tepat waktu tanpa mengeluh.
Saya berhenti memarahi diri sendiri karena tidak lagi sekuat dulu. Saya berhenti merasa bersalah saat harus beristirahat.
Tubuh yang dirawat adalah tubuh yang dihormati. Dan menghormati diri sendiri adalah langkah pertama menuju ketenangan.
Resolusi kedua saya adalah mencintai tanpa keluhan.
Target saya adalah menjadi pendamping yang setia dan menenangkan.
Saya belajar menyapa dengan senyum, menyuapi dengan sabar, mendengarkan tanpa menyela, dan mendoakan tanpa henti. Saya mengurangi keluhan, memperbanyak pengertian, dan menerima kenyataan dengan lapang.
Cinta sejati hadir bukan dalam kemewahan, melainkan dalam kesetiaan pada hal-hal kecil.
Resolusi ketiga saya adalah pulang pada Tuhan.
Target saya adalah memiliki hati yang lebih tenang dan pasrah.
Saya menjaga salat tepat waktu. Saya membaca Al-Qur’an setiap hari meski hanya beberapa ayat. Saya menulis doa dalam buku harian. Saya menutup malam dengan syukur.
Saya datang kepada Tuhan bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan kejujuran. Dan di sanalah saya menemukan kekuatan.
Resolusi keempat saya adalah berkarya dengan disiplin dan cinta.
Target besar saya tahun ini adalah menyelesaikan:
empat buku pentigraf hingga genap sepuluh buku,
satu Buku Nadhira,
dua buku memoar,
dan satu buku Pensiunan Siapa Takut.
Saya menulis minimal satu halaman setiap hari. Saya menyusun jadwal menulis pagi dan sore. Saya mengarsipkan naskah secara rapi. Saya berdiskusi dengan komunitas. Saya menyelesaikan satu buku setiap tiga bulan.
Saya berkarya bukan untuk tepuk tangan, tetapi agar jiwa saya tetap hidup.
Setiap kata adalah penyembuhan. Setiap warna adalah doa.
Resolusi kelima saya adalah memilih hidup sederhana.
Target saya adalah hidup tanpa iri, tanpa berlebihan, tanpa beban.
Saya membatasi belanja impulsif. Saya mengurangi waktu di media sosial. Saya memilih pergaulan yang menenangkan. Saya menata rumah sebagai ruang damai.
Saya berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Saya berhenti mengejar pengakuan.
Karena sering kali, yang membuat kita lelah bukan kekurangan, melainkan keinginan yang tidak pernah selesai.
Pada akhirnya, resolusi saya bukan sekadar daftar target. Ia adalah sikap batin.
Sikap untuk lebih jujur pada diri sendiri, lebih lembut pada kegagalan, lebih ramah pada usia, dan lebih sabar pada proses.
Saya tidak tahu sampai kapan saya akan berjalan. Tidak ada seorang pun yang tahu.
Tapi saya tahu satu hal: saya ingin berjalan dengan hati yang ringan.
Jika Anda membaca ini dan sedang lelah, ingatlah: Anda tidak sendirian.
Anda tidak harus selalu kuat. Tidak harus selalu terlihat berhasil. Tidak harus selalu memenuhi harapan semua orang.
Kadang, keberanian terbesar adalah memilih tenang.
Karena hidup yang baik bukan tentang seberapa tinggi kita naik, melainkan seberapa damai kita melangkah.
Dan resolusi terbaik bukanlah janji pada dunia, melainkan kesetiaan pada diri sendiri.
Makassar, Januari 2026
⸻
Biodata Penulis
Telly D. adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., seorang pegiat literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL, Penasihat IGMP Matematika, pemerhati pendidikan, pelukis, dan penulis lebih dari 60 judul buku. Buku terakhir: “Dinding, Cermin dan Pintu”, 81 Pentigraf Luka yang Diam dan Cinta yang Bertahan (2026).

February 15, 2026 at 1:48 am
Natasha3904
Refer friends and colleagues—get paid for every signup!
February 8, 2026 at 10:30 am
Gemma1250
Earn up to 40% commission per sale—join our affiliate program now!