DI ANTARA ASAP DAN DOA

Pentigraf
DI ANTARA ASAP DAN DOA
Oleh: Telly D.
Ia duduk di pojok warung, menatap gelas kopi yang mulai dingin. Orang-orang memanggilnya “guru,” tapi tak ada murid yang tahu dari mana ia datang. Setiap sore, ia berbicara tentang damai, tentang jalan menuju cahaya, seolah pernah berjalan di sisi gelap yang tak disebutkan.
Kadang ia menulis di selembar kertas lusuh, mencoret nama-nama lalu membakarnya di bawah meja. Di antara kepulan asap, kata-katanya melayang: “Semua orang bisa menjadi baik, bahkan yang pernah memegang api.” Tak ada yang berani bertanya. Hanya anak kecil di pojok warung yang pernah melihat tato samar di lengannya angka, tanggal, dan satu kata: Amal.
Suatu pagi, ia tak datang lagi. Hanya tersisa secarik kertas di kursi tempatnya biasa duduk: “Damai bukan tempat, tapi luka yang tak lagi ingin membalas.” Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya; guru, pelarian, atau penyintas. Tapi sejak itu, warung kopi menjadi tempat orang berdoa dalam diam.
Makassar, 13 November 2025

November 16, 2025 at 7:23 am
Marissa4735
https://shorturl.fm/t4u2B