Hadiah dari Pohon Mangga

Hadiah dari Pohon Mangga
Oleh: Telly D *)
Pagi itu, udara masih lembab oleh embun yang masih menggantung di ujung daun. Ketika saya membuka pintu rumah, aroma manis yang begitu akrab menyapa hidung saya, bau khas mangga matang yang menembus karung goni di depan pintu. Saya tertegun beberapa saat, menatap karung itu seolah sedang melihat masa lalu yang datang menyalami saya dengan lembut. Saya tahu bahwa itu mangga kiriman dari teman-teman LPMP Sulawesi Barat.
Tangan saya bergetar ketika membuka simpul tali karung itu. Satu demi satu mangga arum manis muncul dengan warna kuning kehijauan yang menenangkan mata. Rasanya seperti menyentuh kembali sesuatu yang dulu saya tanam, bukan sekadar pohon melainkan harapan, persaudaraan, dan doa agar setiap yang tumbuh di sana membawa kebaikan.
Saya telah menanam puluhan pohon mangga itu di halaman kantor yang luas bertahun-tahun silam. Saat itu, saya berpikir sederhana: agar lingkungan kantor rindang, dan jika berbuah, bisa dinikmati bersama. Tapi siapa sangka, setelah saya pensiun, pohon-pohon itu masih menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara saya dan teman-teman yang dulu bekerja di bawah langit yang sama.
Saya duduk di kursi ruang makan, memandangi buah-buah itu seperti menatap anak-anak yang kembali pulang membawa kabar baik. Dalam setiap mangga, saya seakan mendengar percakapan lama: tawa saat menanam di bawah terik matahari, canda pegawai muda yang belajar membedakan bibit unggul, dan nasihat kecil tentang merawat sesuatu yang kelak memberi manfaat bagi banyak orang. Pohon-pohon itu tumbuh bersama kenangan, dan kini mereka berbuah dalam bentuk kasih.

Sekarung Goni Mangga di Depan Pintu. Foto: Dokumen Pribadi
Di zaman ini, jarak sering membuat kenangan memudar. Banyak orang yang setelah pensiun, perlahan terlupakan seolah semua pengabdian berhenti di pintu tanggal SK terakhir. Namun pagi itu, ketika karung mangga itu tiba tanpa saya duga, saya merasa ada yang tetap hidup: silaturahmi. Ia seperti akar yang tak tampak, tapi terus menyusup di bawah tanah, menjaga pohon agar tidak tumbang oleh waktu.
Silaturahmi, bagi saya, bukan sekadar sapaan atau pertemuan sesaat. Ia adalah penghormatan terhadap perjalanan hidup, terhadap orang-orang yang pernah berjalan bersama kita dalam tugas dan niat baik. Ketika mereka mengingat saya dan mengirimkan hasil panen itu, rasanya bukan sekadar buah yang dating, tapi penghargaan atas kebersamaan yang dulu tumbuh tanpa pamrih. Dalam setiap gigitan mangga yang manis, saya akan merasakan manisnya hati mereka.

Sebagian Mangga Isi Karung. Foto: Dokumen Pribadi
Saya lalu mengambil satu mangga, membelahnya perlahan, mencium aromanya yang harum. Ada rasa syukur yang mendalam. Rupanya, pohon-pohon itu bukan hanya pelindung dari panas matahari, tapi juga penanda bahwa kebaikan, bila ditanam dengan tulus, akan berbuah berkali-kali lipat, bahkan setelah penanamnya tak lagi berada di sana.
Saya teringat sebuah hadis, “Barang siapa memelihara silaturahmi, maka Allah akan melapangkan rezekinya dan memanjangkan umurnya.” Saya percaya, bukan hanya umur dalam hitungan tahun, tapi juga umur dalam kenangan dan doa orang lain. Karena hidup yang berarti bukanlah yang panjang waktunya, melainkan yang panjang jejak kebaikannya.

Mencoba Menikmati Manisnya Mangga Arum Manis. Foto: Dokumen Pribadi
Maka pagi itu, saya belajar lagi dari pohon mangga yang dulu saya tanam: bahwa tangan yang menanam kebaikan tak pernah sia-sia. Ia mungkin jauh, tapi akan tetap dikenang oleh akar yang menancap dalam dan oleh daun yang menari di angin waktu.
Terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada pimpinan lembaga di sana, kepada Ibu Ida yang dengan penuh kasih mengemasnya, dan kepada Bapak Agussalim yang mengupayakan agar buah-buah itu sampai ke rumah saya. Semoga semua yang terlibat dalam kebaikan kecil ini mendapatkan pahala dan keberkahan berlipat dari Allah SWT. Karena setiap butir mangga yang manis itu bukan sekadar buah melainkan tanda cinta, penghormatan, dan silaturahmi yang terus berbuah hingga akhir waktu.
Makassar, 10 November 2025
*) Telly D. adalah Nama Pena dari Dr. Daswatia Astuty, M.Pd Ka. LPMP Sulbar 2009-2016, Ka. PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016-2020. Plt Ka. PPPPTK Seni Budaya 2017-1019 (dua kali), Pekerja Sosial Kemanusiaan, Pegiat Literasi, Penasihat komunitas menulis Rumah Virus Literasi (RVL), Pelukis, Penulis dengan 60 lebih judul buku, buku terakhir, Kartini Zaman Kini, 45 Tangan Menahan Cahaya (2025), ibu rumah tangga dan pensiunan. Dapat dihubungi melalui Email: tellydachlan1@gmail.com. dan weblog https://daswatia.com, WA: 083292669392

November 11, 2025 at 2:26 am
Sumintarsih
Berkah selalu Bunda….
Hebatnya teman2 yang masih merawat silaturahmi yg Bunda tanam. Salam buat mereka.