TINTA DI BALIK NAMA

Pentigraf
TINTA DI BALIK NAMA
Oleh: Telly D.
Ia dulu badai. Ia pernah menjadi napiter, menanam bom yang merenggut nyawa orang-orang yang tak dikenalnya, yakin ledakan itu akan membukakan pintu surga. Dunia memanggilnya teroris, dan penjara menelannya seperti malam menelan cahaya kecil. Di balik jeruji, waktu perlahan meleburkan bara dalam dadanya; di sela dinding lembap, ia mulai mendengar gema langkahnya sendiri suara yang lama tersesat, kini mengetuk jalan pulang. Dari kesunyian itu ia belajar, bahwa gelap paling pekat bukan di luar, melainkan di dalam diri.
Bertahun kemudian, beberapa penulis ingin menulis kisah hidupnya, dan ia dengan hati terbuka menyerahkan seluruh kelamnya. “Tulislah,” katanya, “agar tak ada lagi yang menukar cinta dengan dendam, atau menyebut kebencian sebagai iman.” Dalam setiap pengakuan, ia menyalakan satu lentera kecil kemanusiaan.
Ketika kisah itu terbit, namanya tercetak terang di dalam buku. Tak ada samaran, tak ada sembunyi. Ia menandatanganinya dengan tenang. Di atas tinta yang mengering, langit menunduk memberinya tempat. Sebab ia tahu: bahkan yang pernah menjadi badai, tetap bisa menjadi cahaya jika hatinya rela terbuka pada langit yang ia lukai sendiri.
Makassar, 10 November 2025

Leave a Reply