Teknologi Tidak Membuat Kita Bodoh

Teknologi Tidak Membuat Kita Bodoh
Oleh: Telly D.*)
Sejak dulu, manusia selalu gelisah dengan hadirnya teknologi baru. Ketika tulisan mulai menggantikan hafalan, Plato sudah khawatir orang jadi malas mengingat. Zaman modern pun sama: kalkulator dituding membuat orang tak bisa berhitung, GPS dianggap bikin manusia kehilangan arah, dan sekarang AI dituduh membunuh daya pikir. Kekhawatiran itu menarik, tapi sering berlebihan. Teknologi tidak membuat kita bodoh, ia justru memperluas cara kita berpikir.
Bayangkan ketika kita memakai kalkulator. Ia tidak menghapus logika, tapi membebaskan pikiran dari hitungan mekanis agar kita bisa fokus pada konsep. GPS pun begitu. Ia bukan tanda ketergantungan, tapi cara efisien agar energi kita tidak habis di jalan, melainkan sampai pada tujuan. Bahkan tidak hafal nomor telepon pun bukan kemunduran, melainkan penyesuaian: otak kita kini bekerja bersama catatan digital, ponsel, dan jaringan informasi.
Para peneliti menyebut ini sebagai “pikiran yang diperluas.” Artinya, otak kita tidak berdiri sendiri, tapi bekerja bersama alat, ruang, dan interaksi sosial. Kalkulator, papan tulis, aplikasi catatan, hingga AI adalah bagian dari sistem berpikir itu. Jadi, bukan alatnya yang membuat kita malas, melainkan pilihan kita sendiri.
Memang, teknologi bisa melemahkan jika dipakai tanpa sadar. Layar bisa merenggangkan hubungan tatap muka, notifikasi bisa merusak konsentrasi. Tapi masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita mengatur penggunaannya. Sama seperti pisau, ia bisa dipakai untuk masak atau melukai. Semua kembali pada manusia.
AI, misalnya, bisa menulis ringkasan. Apakah itu tanda otak kita berhenti bekerja? Tidak. Ringkasan justru bisa jadi pijakan awal untuk berpikir lebih jauh, mengkritisi, atau mengembangkan ide baru. Sama seperti mesin ketik dulu tidak pernah membunuh sastra, AI pun tidak akan mematikan nalar.
Maka, tantangan kita bukan meratapi kebiasaan lama yang hilang, seperti menghafal nomor telepon atau membaca peta manual. Tantangannya adalah bagaimana mengasah kemampuan baru: berpikir kritis, memilah informasi, dan beradaptasi di tengah dunia digital yang cepat berubah.
Kita tidak menjadi bodoh karena teknologi. Kita hanya akan benar-benar bodoh jika berhenti berpikir, berhenti belajar, dan menyerah pada nostalgia palsu tentang masa lalu. Teknologi hanyalah alat. Manusia tetaplah penentunya.
Woodlands, Singapore 2025
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

October 31, 2025 at 11:04 am
Virginia2135
https://shorturl.fm/uD4jd
October 21, 2025 at 5:06 pm
Harlan1353
https://shorturl.fm/1xXYQ