SINGGASANA EMAS

Pentigraf
SINGGASANA EMAS
Oleh:Telly D.
Ketika demo anarkis pecah dan massa menjarah rumah seorang anggota dewan, Rano, buruh bangunan, ikut terdorong masuk hingga ke kamar mandi megah. Lantai marmer mengilap bagai permukaan bulan, dinding berlapis kaca seperti cermin raksasa yang tak henti memantulkan wajahnya sendiri. Di pojok ruangan, sebuah toilet berlapis emas berdiri angkuh, berkilau seolah singgasana kecil yang dibuat hanya untuk satu tubuh.
Dengan ragu, ia mendekat. Bau harum menyengat dari pengharum impor, tapi di baliknya ada aroma busuk samar, seperti jejak yang tak bisa ditutupi parfum mahal. Rano tersenyum miris: emas di sini tak mampu menyembunyikan kebenaran bahwa tempat itu tetaplah wadah kotoran. Ia berbisik, “beginilah wajah kekuasaan, gemerlap di luar, busuk di dalam.”
Rasa ingin tahunya tak tertahan, tangannya terjulur menyentuh dan mengetuk tepi toilet, menunggu suara nyaring tapi justru gema aneh yang terdengar bergemuruh bagai siraman air kloset. Ia tertawa hambar, menyadari kejujuran bunyi perutnya yang minta dikeluatrkan sejak semalam. Tanpa berpikir panjang dia menduduki singgasana emas itu. Dengan rasa lega dia berguman, “hari ini aku telah buang hajat di atas singgasana emasmu.”
Makassar, September 2025

Leave a Reply