YANG TAK DIPOLES

Pentigraf
YANG TAK DIPOLES
Oleh: Telly D.
Namira selalu menjadi pusat perhatian. Di setiap buka bersama Ramadhan, wajahnya yang terbingkai riasan sempurna mengundang decak kagum. Pujian datang berlapis: cantik, anggun, memikat. Ia terbiasa tersenyum dan mengucap terima kasih. Namun di rumah, setelah ia melepas sepatu dan membersihkan wajahnya, suaminya tak pernah berkata apa-apa tentang penampilannya.
Diam itu perlahan menjadi ruang kosong yang mengganggu. Namira mulai berdandan bukan lagi untuk dunia, melainkan untuk satu pasang mata yang tak pernah berkomentar. Ia memilih warna yang lebih berani, gaun yang lebih anggun, berharap ada satu kalimat yang menegaskan bahwa ia dilihat.
Malam itu, ia akhirnya bertanya dengan suara hampir patah, suaminya tersenyum tipis. menatapnya lama, “Aku sengaja tidak memujimu agar kau tak merasa harus selalu sempurna di depanku. Aku jatuh cinta pada wajahmu yang polos saat kau tertidur setelah tahajud, pada rambutmu yang acak saat menyiapkan sahur. Di situlah kau paling indah.” Namira terdiam, ia menangis bukan karena pujian, melainkan karena dicintai di tempat yang tak pernah ia poles dan sadari.
Makassar, Februari 2026

Leave a Reply