Menjelang Ramadan, Kami Kembali Saling Menemukan

Menjelang Ramadan, Kami Kembali Saling Menemukan
Oleh:Telly D.*)
Ada getar yang berbeda ketika kami melangkah menuju pertemuan itu bukan sekadar langkah menuju sebuah tempat makan, melainkan menuju lorong kenangan yang lama tak kami buka. Rambut yang memutih, langkah yang lebih pelan, dan senyum yang menyimpan rindu menjadi tanda bahwa waktu telah bekerja diam-diam atas diri kami. Namun begitu saling menatap, kami tahu: persahabatan yang ditempa oleh pengabdian tak pernah benar-benar pensiun.
Kami pernah berada dalam satu barisan di Balai Penataran Guru yang kemudian berubah menjadi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sulawesi Selatan. Kami bahu-membahu menyusun program, berdebat tentang metode, dan menyemangati para pendidik agar tak lelah menyalakan cahaya ilmu. Dulu, kesibukan membuat kami jarang berhenti untuk sekadar mendengar detak hati masing-masing. Kini, di usia senja, kami justru punya waktu untuk duduk berdampingan dan menyadari betapa berharganya kebersamaan itu.
Di meja-meja yang tertata hangat, tersaji hidangan Nusantara sebagai pengiring cerita: nasi putih dan nasi kuning yang harum, nasi goreng, ayam bakar dan rendang yang mengingatkan pada jamuan rapat-rapat lama, ikan bakar, sayur asem, urap, dan sambal yang pedasnya menggugah tawa. Di sela percakapan, kami menikmati kue-kue Bugis Makassar yang manis legit, yang sederhana namun akrab di lidah. Bukan sekadar makanan, tetapi penanda suasana: hangat, akrab, dan penuh rasa syukur.
Namun yang membuat ruangan itu benar-benar hidup bukanlah hidangannya, melainkan suara-suara kami yang saling bersahutan. Tawa pecah ketika kisah lama diungkit kembali tentang perjalanan dinas yang penuh drama, tentang perdebatan sengit yang kini terasa lucu, tentang idealisme yang dulu kami pertahankan mati-matian. Kami saling menggoda, saling menyela, dan sesekali terdiam karena haru.

Ketika Menikmati Hidangan Makan Siang. Foto: Dokumen Pribadi
Ketika lagu-lagu lama dinyanyikan bersama, suasana semakin meriah. Suara kami tak lagi seindah dulu, beberapa nada meleset, napas tersengal, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Kami bernyanyi bukan untuk pamer suara, melainkan untuk merayakan usia yang masih diberi kesempatan berkumpul. Tepuk tangan dan gelak tawa berpadu, membuat waktu seakan mundur beberapa puluh tahun.
Kebahagiaan itu terasa semakin utuh ketika kami tahu bahwa seluruh pertemuan ini ditanggung oleh kebaikan hati seorang sahabat, Dr. H. Anwar pebisnis tangguh yang tanpa banyak kata memilih berbagi kebahagiaan. Dalam diamnya, ada pelajaran tentang makna keberhasilan: bukan sekadar capaian duniawi, tetapi kemampuan menghadirkan kegembiraan bagi orang lain.

Setelah Menikmati Hidangan Makan Siang. Foto: Dokumen Pribadi
Namun puncak dari semuanya adalah saat kami saling mengucapkan maaf. Suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Kata “maaf” terasa lebih dalam, lebih jujur. Di usia lansia, kami sadar bahwa tak ada lagi yang perlu dipertahankan selain hati yang bersih. Ramadan yang akan datang seperti mengetuk perlahan, mengingatkan bahwa ibadah bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga menanggalkan ego.
Pertemuan itu menjadi semacam pintu awal menuju bulan suci. Sebelum kami berpuasa dari makan dan minum, kami lebih dulu berpuasa dari kesombongan. Sebelum kami memperbanyak doa, kami lebih dulu memperbaiki relasi. Tawa, lagu, hidangan, dan pelukan hari itu seolah menyatu dalam satu makna: kebersamaan adalah nikmat yang tak ternilai.
Ketika kelak Ramadan benar-benar menyapa, saya ingin mengingat wajah-wajah itu yang tertawa lepas, yang berkaca-kaca saat memohon maaf, yang menyanyikan lagu lama dengan suara gemetar namun bahagia. Sebab mungkin, di ujung usia, yang paling menggema bukanlah cerita tentang pekerjaan yang pernah kami jalani, melainkan tentang hati yang telah kami lapangkan. Silaturahmi itu mengajarkan saya satu hal yang sederhana namun dalam: sebelum kita mengetuk pintu langit dengan doa-doa Ramadan, kita harus lebih dulu membuka pintu hati bagi sesama.
Makassar, Februari 2026
Biodata Penulis
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., seorang pegiat literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL, Penasihat IGMP Matematika, pemerhati pendidikan, pelukis, dan penulis lebih dari 60 judul buku. Buku terakhir: “Dinding, Cermin dan Pintu” 81 Pentigraf Luka yang Diam dan Cinta yang Bertahan (2026).

February 15, 2026 at 1:48 am
Clementine4583
Join forces with us and profit from every click!